Takut Terjerumus Syirik

Seorang hamba sangat membutuhkan ampunan dari Alloh Ta’ala. Karena kesalahan-kesalahan yang dilakukannya selama hidup di dunia akan menumpuk dan berakibat buruk di akhirat bila tidak mendapatkan ampunan dari-Nya. Oleh karena itulah tatkala Alloh mengabarkan ada sebuah dosa yang tidak mendapatkan ampunan tentunya hal itu akan membuat hamba kehilangan kebahagiaannya, bagaimana mungkin dia bisa menikmati indahnya surga dan menuai balasan amalnya jika ternyata dosa tersebut membuat semua amalnya hangus dan ampunanpun tidak turun kepadanya, dan lebih parah lagi surga pun diharamkan baginya! Saudaraku, sadarilah bahaya syirik sedang mengancam kebahagiaanmu.Syirik, Kejahatan Yang Tak Terampuni

Kalau seandainya seorang hamba berjumpa dengan Alloh Ta’ala dengan dosa sepenuh bumi niscaya Alloh akan mengampuni dosa itu semua, akan tetapi tidak demikian halnya bila dosa itu adalah syirik. Alloh Ta’ala berfirman melalui lisan Nabi-Nya dalam sebuah hadits qudsi, “Wahai anak Adam, seandainya engkau menjumpai-Ku dengan dosa kesalahan sepenuh bumi dalam keadaan tidak mempersekutukan Aku, niscaya Akupun akan menjumpaimu dengan ampunan sepenuh itu pula.” (HR. Tirmidzi, dishohihkan oleh Al Albani dalam Ash Shohihah 127)

Bahkan di dalam Al Qur’an Alloh telah menegaskan dalam firman-Nya, “Sesungguhnya Alloh tidak mengampuni dosa syirik dan Dia mengampuni dosa yang berada di bawah tingkatan syirik bagi orang-orang yang dikehendaki-Nya.” (An Nisaa’: 48)

Al Imam Ibnu Katsir menafsirkan, “Alloh Ta’ala mengabarkan bahwasanya Dia tidak akan mengampuni dosa syirik, artinya Dia tidak mengampuni hamba yang bertemu dengan-Nya dalam keadaan musyrik, dan (Dia mengampuni dosa yang dibawahnya bagi orang yang dikehendaki-Nya); yaitu dosa-dosa (selain syirik -pent) yang Alloh akan beri ampunan kepada hamba-hamba yang dikehendaki-Nya.”

Ulama besar Ibnul Qoyyim berkata tentang ayat ini, “Dengan ayat ini maka jelaslah bahwasanya syirik adalah dosa yang paling besar, karena Alloh Ta’ala memberitakan bahwasanya Dia tidak mengampuni dosa orang yang tidak bertaubat darinya (syirik), adapun dosa-dosa yang lain yang tingkatannya ada dibawahnya maka itu tergantung kehendak-Nya, jika Dia menghendaki maka orang yang bertemu dengan-Nya dengan membawa dosa tersebut akan diampuni, tapi jika Dia menghendaki maka orang itu akan disiksa karena dosa itu. Dan hal ini tentu saja membuahkan rasa takut yang amat dalam bagi seorang hamba terhadap syirik yang demikian besar dosanya di sisi Alloh. Karena syirik itu adalah keburukan yang paling buruk, kezholiman yang paling zholim, dan merupakan pelecehan terhadap Robbul ‘alamin; dan memalingkan hak yang seharusnya hanya dipersembahkan kepada-Nya ditujukan kepada selain-Nya, dan mensejajarkan selain-Nya dengan-Nya…” (Fathul Majid karya Syaikh Abdurrohman bin Hasan).

Nabi Saja Takut Terjerumus Syirik

Alloh Ta’ala mengisahkan do’a Nabi Ibrohim ‘alaihis salam di dalam ayat-Nya, “(Wahai Robbku) jauhkanlah aku dan anak keturunanku dari penyembahan kepada patung.” (Ibrohim: 35). Lihatlah sosok Nabi yang mulia ini, beliau adalah orang yang sudah mendapat gelar sebagai Kholilurrohman (Kekasih Alloh) sekaligus menjadi Abul Anbiyaa’ (Bapak para Nabi), imam yang patut dijadikan teladan, orang yang hanif (berpaling dari syirik menuju tauhid) dan orang yang senantiasa taat kepada Alloh sehingga rela mengorbankan puteranya itupun beliau masih memendam rasa takut yang sangat dalam dari terjerumus dalam kesyirikan dalam bentuknya yang paling nampak yaitu penyembahan patung. Padahal kalau kita renungkan beliau sangat jauh dari hal itu, meskipun demikian ilmunya yang sangat dalam itulah yang membuahkan rasa takut yang sangat besar terhadap kesyirikan, karena tidak ada orang yang merasa aman dari bahaya kesyirikan kecuali orang yang jahil (bodoh) tentang hakikat kesyirikan, macam-macamnya dan betapa sulitnya membersihkan diri darinya. Pantaslah jika ada seorang ulama salaf yang berkata, “Lalu siapakah orangnya selain Ibrohim yang bisa merasa aman dari bahaya syirik”. Kalau Nabi Ibrohim saja demikian maka bagaimana lagi dengan kita, yang siang dan malamnya selalu diwarnai perbuatan dosa. Sadarlah wahai saudaraku…

Para Sahabat pun Terancam Bahaya Syirik

Di dalam sebuah hadits Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesuatu yang paling aku khawatirkan menimpa kalian adalah syirik ashghor, maka beliaupun ditanya apa itu (syirik ashghor) ? Beliau menjawab ‘Yaitu riya’.” (HR. Ahmad)

Para sahabat adalah generasi terbaik ummat ini, bahkan mereka adalah manusia-manusia terbaik sesudah para Nabi yang pernah hidup di muka bumi, keteguhan iman mereka sudah terbukti, pengorbanan jiwa dan harta mereka sudah tidak diragukan lagi, meskipun demikian Nabi masih mengkhawatirkan syirik menimpa mereka. Lalu bagaimana lagi dengan kita? Sungguh, kita lebih pantas untuk merasa takut melebihi ketakutan mereka, kita lebih rawan terkena syirik daripada mereka.

Kegagalan Memang Mengerikan

Gagal mengerjakan ujian bisa berakibat tidak lulus pendidikan, begitu pula gagal dalam bekerja bisa berakibat anak isteri kelaparan, tapi gagal menghindari kesyirikan lebih parah dan lebih mengerikan. Coba renungkan, susah payahmu bekerja memeras keringat membanting tulang, pergi pagi pulang petang, beribadah sesuai tata cara yang diajarkan namun ternyata kesyirikan masih mengisi relung-relung hati, gerak-gerik lidah dan tingkah laku anggota badan. Siapa yang bisa menjamin hati, ucapan dan perbuatanmu terbebas dari kesyirikan? Padahal bertemu dengan Alloh dengan tanggungan dosa syirik adalah bencana yang amat menakutkan, lebih menakutkan daripada dahsyatnya gelombang tsunami yang telah menelan begitu banyak korban, bahkan lebih menyakitkan daripada hantaman peluru kaum Yahudi.

Alloh Ta’ala telah memberikan ancaman, “Sungguh telah diwahyukan kepadamu dan kepada orang-orang (para Nabi) sebelummu, ‘Sungguh, jika kamu berbuat syirik niscaya lenyaplah seluruh amalmu dan kamu benar-benar akan termasuk golongan orang-orang yang merugi.” (Az Zumar: 65). Kalau Nabi saja mendapatkan ancaman sekeras ini lalu bagaimana lagi dengan kita?

Jalan Keselamatan

Apabila orang-orang kafir yang tertipu dengan dunia yang fana sibuk mengejar harta dan kekuasaan, maka sudah seharusnya kaum muslimin menyelisihi mereka. Walaupun bekerja dan berusaha, namun kaum muslimin sama sekali tetap tidak boleh tertipu dengan dunia. Biarlah mereka (orang-orang kafir) menuai kesenangan dunia sepuas-puasnya toh akhirnya di akhirat mereka tidak akan mendapat apa-apa. Tapi seorang muslim sejati yang merindukan kebahagiaan yang hakiki hanya memiliki satu cita-cita yaitu mengabdi hanya kepada Alloh Ta’ala dan tidak mencampuri aktivitasnya dengan kesyirikan.

Dengan demikian tidak ada jalan lain bagi kita untuk selamat dari bahaya kesyirikan kecuali kita harus mempelajari apa itu syirik dan macam-macamnya, dan bagaimanakah cara untuk menghindarinya. Karena dengan menuntut ilmu agamalah kita akan memperoleh kemudahan jalan menuju surga. Wallohu a’lam bish showaab.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: