Yasinan: Adakah Dalam Islam ?

mediamuslim.wordpress.com - “Ayo pak kita yasinan di rumahnya pak RT!” Kegiatan yang sudah menjadi tradisi di masyarakat kita ini biasanya diisi dengan membaca surat Yasin secara bersama-sama. Mereka bermaksud mengirim pahala bacaan tersebut kepada si mayit untuk meringankan penderitaannya. Timbang-timbang, daripada berkumpul untuk bermain catur, kartu apalagi berjudi, kan lebih baik digunakan untuk membaca Al-Qur’an (khususnya surat Yasin). Memang sepintas jika dipertimbangkan menurut akal pernyataan itu benar namun kalau dicermati lagi ternyata ini merupakan kekeliruan.Al-Qur’an Untuk Orang Hidup

Al-Qur’an diturunkan Alloh Ta’ala kepada Nabi Muhammad shollallohu’alaihi wa sallam sebagai petunjuk, rahmat, cahaya, kabar gembira dan peringatan. Maka kewajiban orang-orang yang beriman untuk membacanya, merenungkannya, memahaminya, mengimaninya, mengamalkan dan berhukum dengannya. Hikmah ini tidak akan diperoleh seseorang yang sudah mati. Bahkan mendengar saja mereka tidak mampu. “Sesungguhnya kamu tidak dapat menjadikan orang-orang mati itu mendengar.” (Terjemah An-Nahl: 80).

Alloh Ta’ala juga berfirman di dalam surat Yasin tentang hikmah tersebut yang artinya, “Al Qur’an itu tidak lain hanyalah pelajaran dan kitab yang memberi penerangan supaya dia memberi peringatan kepada orang-orang yang hidup.” (Yasin: 69-70). Alloh berfirman yang artinya, “Sesungguhnya seseorang itu tidak akan menanggung dosa seseorang yang lain dan bahwasanya manusia tidak akan memperolehi ganjaran melainkan apa yang telah ia kerjakan.” (An-Najm: 38-39). Berkata Al-Hafizh Imam Ibnu Katsir rohimahulloh: ”Melalui ayat yang mulia ini, Imam Syafi’i rohimahulloh dan para pengikutnya menetapkan bahwa pahala bacaan (Al-Qur’an) dan hadiah pahala tidak sampai kepada orang yang mati, karena bacaan tersebut bukan dari amal mereka dan bukan usaha mereka. Oleh karena itu Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam tidak pernah memerintahkan umatnya, mendesak mereka untuk melakukan perkara tersebut dan tidak pula menunjuk hal tersebut (menghadiahkan bacaan kepada orang yang mati) walaupun hanya dengan sebuah dalil pun.”

Adapun dalil-dalil yang menunjukkan keutamaan surat Yasin jika dibaca secara khusus tidak dapat dijadikan hujjah. Membaca surat Yasin pada malam tertentu, saat menjelang atau sesudah kematian seseorang tidak pernah dituntunkan oleh syari’at Islam. Bahkan seluruh hadits yang menyebutkan tentang keutamaan membaca Yasin tidak ada yang sahih sebagaimana ditegaskan oleh Al Imam Ad Daruquthni.

Islam telah menunjukkan hal yang dapat dilakukan oleh mereka yang telah ditinggal mati oleh teman, kerabat atau keluarganya yaitu dengan mendo’akannya agar segala dosa mereka diampuni dan ditempatkan di surga Alloh subhanahu wa ta’ala. Sedangkan jika yang meninggal adalah orang tua, maka termasuk amal yang tidak terputus dari orang tua adalah do’a anak yang sholih karena anak termasuk hasil usaha seseorang semasa di dunia.

Biar Sederhana Yang Penting Ada Tuntunannya

Jadi, tidak perlu repot-repot mengadakan kenduri, yasinan dan perbuatan lainnya yang tidak ada tuntunannya dari Rosululloh shollallohu’alaihi wa sallam. Bahkan apabila dikaitkan dengan waktu malam Jum’at, maka ada larangan khusus dari Rosululloh shollalohu’alaihi wa sallam yakni seperti yang termaktub dalam sabdanya, “Dari Abu Hurairah, dari Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam: Janganlah kamu khususkan malam Jum’at untuk melakukan ibadah yang tidak dilakukan pada malam-malam yang lain.” (HR. Muslim). Bukankah lebih baik beribadah sedikit namun ada dalilnya dan istiqomah mengerjakannya dibanding banyak beribadah tapi sia-sia? Rosululloh shollallohu’alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang beramal yang tidak ada tuntunannya dari kami, maka ia tertolak.” (HR. Muslim). Semoga Alloh subhanahu wa ta’ala melindungi kita semua dari hal-hal yang menjerumuskan kita ke dalam kebinasaan. Wallohu a’lam bishshowab.

Sumber: mediamuslim.wordpress.com

22 Komentar

  1. Januari 8, 2007 pada 5:06 pm

    Ditengah banyaknya tragedi Transportasi, ini ada tawaran yang menarik yaitu: Penerbangan Gratis Dengan Layanan OK.

  2. gwbanget said,

    Januari 12, 2007 pada 12:54 pm

    Jadi, tidak perlu repot-repot mengadakan kenduri, yasinan dan perbuatan lainnya yang tidak ada tuntunannya dari “Rosululloh shollallohu’alaihi wa sallam”>> wah…wah… ini orang ngajak kita murtad ya? membaca yasinan kan membaca Al-Quran, eh nt kayaknya salah tuh nafsirkan hadist…

  3. Abdullah said,

    Januari 28, 2007 pada 6:00 pm

    cuma mau meluruskan kesalahpahaman oleh gwbanget…..
    cited: “membaca yasinan kan membaca Al-Quran”; yang anda maksud barangkali disini adalah membaca SURAT YASIN, yang memang merupakan salah satu surat (ke-36) dari Al-Qur’an. Jadi membaca surat Yasin seperti juga membaca surat2 lain dari Al-Qur’an adalah tuntunan dari Rasulullah SAW san akan mendapat pahala sebanyak huruf ang dibaca.
    Sedangkan membaca surat YASIN untuk di saat2 dan tempat2 tertentu diistilahkan YASINAN. Inilah yang oleh penulis dikatakan tak ada dalilnya. Surat Al-Fatihah saja, yag merupakan ibu dari Surat2 Al-Qur’an, tidak punya keistimewaan dalam hal pembacaannya, selain bahwa dia dibaca pada 2 rakaat pertama shalat2 wajib; inipun karena Rasulullah SAW mencontohkan demikian. Cuma, seperti pada kasus Surat Yasin; Surat Al-Fatihah pun dibuat oleh beberapa orang menjadi “sakti”, yaitu dibaca sebagai “kiriman” pahala kepada orang2 yang sudah meninggal, yang jelas2 tak ada tuntunan dari Rasulullah SAW dan menyalahi prinsip: siapa berbuat dia akan mendapat pahala atau ganjarannya. Wallahu A’lam bishshawab.
    Demikian “penglurusan” ini, semoga kita selalu mendapat hidayah dari Allah SWT, amien…..

  4. alphi said,

    Januari 28, 2007 pada 6:50 pm

    @gwbanget
    Sory, ane mau sedikit menghimbau, sebaiknya kita berhati-hati sebelum berkomentar ataupun memahami bacaan, ane yakin ente bukan lulusan TK nol kecil yang harus di jelaskan kata per kata. (sory kalo ga’ sopan)

    nah lo….. sebaiknya kita jangan pura-pura ga’ ngerti lalu menuliskan hal-hal yang berbau syubhat hanya demi penghalalan “cara-cara Ibadah” yang tidak benar.

    @abdullah
    sebuah pelurusan yang bermanfaat

    @aqidahislam
    terus berjuang pantang mundur

  5. mocco said,

    Februari 1, 2007 pada 1:50 pm

    saya setuju dengan Saudara Abdullah, bila kita seorang muslim yang kaffah maka kita harus taqwa dan beriman kepada ALLAH dan mengikuti apa yang diajarkan Nabi Muhammad S.A.W kepada umat manusia…itu bila kita ingin menjadi seorang muslim yang kaffah…coba pikirkan dan telaah,apakah ALLAH memerintahkan kita dan Nabi Muhammad menuntunkan kepada kita membaca surat yasin untuk orang yang telah meninggal dunia….ingat,pedoman umat islam ALQUR’AN dan HADITS…

  6. lova said,

    Februari 6, 2007 pada 11:35 am

    Saya memang tertarik sekali dengan pemasalahan mengirm doa kepada teman, saudara yang sudah meninggal. Sebetulnya Saudara penulis juga harus melihat sejarah dan kenyataan. Dalam kita berdoa, kenapa kita harus membaca salawat, demikian juga waktu salat. Padahal Nabi Muhammad tidak memerlukan doa dari kita. Jadi dalam penafsiran Saudara itu tidak benar. Memang dalam hadis sudah disebutkan bahwa hanya tiga hal yang masih ada sangkut pautnya dengan mayat, salah satunya adalah amal jariyah dan doa anak sholeh. Jadi kalo ada yang baca tahlil, yasinan. Itu adalah proses seseorang senantiasa mengingat dan membaca al quran. Sedangkan setelah selesai, baru kita berdoa untuk mayat. Karena Allah telah bersabda, Berdoalah kepadaKu. Nah berdoa itu kan bisa apa saja, namanya juga minta kepada Allah. Jadi semua permintaan tergantung kebutuhan masing-masing. Jangan setiap perbuatan tidak seperti nabi dianggap salah. Kalo zaman Nabi Muhammad (di Mekkah ) tidak makan nasi atau ketela, apakah kiota tidak boleh makan ketela. Zaman Nabi tidak ada Komputer dan Telepon, apakah kita tidak boleh menggunakan peralatan tersbut? Jadi suatu hadis itu juga harus dilihat dari Zaman dan sejarahnya. Mohjon maaf apabila adalah salah, karena manusia tempatnya salah.

  7. Septi said,

    Februari 8, 2007 pada 11:28 am

    Lepas dari benar atau tidaknya mengirim doa untuk orang yang sudah meninggal, saya rasa tidak ada salahnya klo kita berdoa. Mau sambil baca surat Yaasin atau tidak tergantung kepercayaan masing-masing aja. Cuma sebaiknya kita jangan menyampaikan sesuatu yang kita sendiri belum tau kebenarannya. Itu sangat berbahaya, banyak yang membaca & klo itu salah maka kita akan membuat banyak orang menjadi salah, dan itu artinya kita jadi berdosa & mengajak orang lain ikut berdosa.

  8. MM said,

    September 5, 2007 pada 3:17 pm

    kunjungi juga mediamuslim.org

  9. koesbagi2informasi said,

    Februari 14, 2008 pada 11:34 am

    Saudaraku ilmu jangan hanya dari satu sumber saja setelah dari Rosululloh Muhammad SAW meninggal. Banyak hadist-hadist yang palsu memang, lemah memang hasan banyak. Tapi juga banyak hadist yang hasan/sahih dibuat seperti palsu seperti faedah membaca surat yasin.
    Tapi kenapa hadist-hadist yang sering menjadi dasar Saudara untuk mengatakan tidak ada dasar keutamaan surat yasin dalil-dalil dibawah ini tidak ada :

    1. Sayyiduna Ma’aqal ibn Yassaar (radiyAllau ‘anhu) meriwayatkan bahwa Rasulullah (sallAllahu ‘alayhi wasallam) bersabda,
    “Yasin adalah kalbu dari Al Quran. Tak seorangpun yang membacanya dengan niat menginginkan Akhirat melainkan Allah akan mengampuninya. Bacalah atas orang-orang yang wafat di antaramu.” (Sunan Abu Dawud).

    Imaam Haakim mengklasifikasikan hadits ini sebagai Sahiih , di Mustadrak al-Haakim juz 1, halaman 565; lihat juga at-Targhiib juz 2 halaman 376. Imaam Ahmad meriwayatkan dalam Musnad-nya dengan sanad beliau dari Safwaan bahwa ia berkata, “Para ulama biasa berkata bahwa jika Yasin dibaca oleh orang yang tengah maut, Allah akan memudahkan maut itu baginya.” (Lihat Tafsiir Ibn Katsir juz 3 halaman 571)

    2. Sayyiduna Jund ibn Abdullah (radiyAllahu ‘anhu) meriwayatkan bahwa Rasulullah (sallAllahu ‘alayhi wasallam) bersabda,
    “Barangsiapa membaca Surah Yaseen pada malam hari dengan niat mencari ridha Allah, dosa-dosanya akan diampuni.” (Muwattha’ Imaam Maalik).

    Imaam ibn Hibbaan mengklasifikasikan hadits ini sebagai Sahiih, lihat Sahiih ibn Hibbaan Juz 6 halaman 312, ( lihat juga at-Targhiib juz 2 halaman 377). Riwayat serupa oleh Sayyiduna Abu Hurayrah (radhiyAllahu ‘anhu) juga telah dicatat oleh Imaam Abu Ya’ala dalam Musnad beliau dan Hafiz ibn Katsir telah mengklasifikasikan rantai periwayatnya (Sanad) sebagai “Baik” (Hasan) (lihat Tafsiir Ibn Katsiir Juz 3 halaman 570).

    Coba para kaum muslimin lebih bijaksana dan jangan saling menyalahkan tapi mari saling meluruskan. Jangan gampang mengatakan ini bid’ah ini syirik ini kafir. Salam

  10. alkaillah said,

    Oktober 30, 2008 pada 3:29 pm

    saya setuju dengan lova.memang di indonesia dikit2 ngomongin bid ah..kalo nggak ada para wali yang datang tanah jawa khususnya mungkin nggak ada islam di jawa..n para wali emang nggak membawa dalil.itu hanya marketing yang para wali di jawa untuk membuat manusia sebelum muslim menjai manusia muslim..nah kalo jaman sekarang dibuat masalah tinggal kita memahaminya gimana..niatnya gimana..kalo niatnya memang di tujukan ke mayit ya jelas nggak ada manfatnya soalnya kalo udah jadi mayit itu urusan Allah bukan manusia .kita hanya mendoakan aja tapi janganlah berdoa yang salah nanti jadi sia2seperti kita ngomong ama batu ya gitu deh

  11. tiar86 said,

    Januari 17, 2009 pada 10:56 pm

    apakah salah jika kita berkunjung ke tempat orang yang sudah meninggal untuk berbelasungkawa terhadap keluarganya.. yasinan jangan diartikan macam2, menurut saya islam itu agama yang sangat fleksibel, tergantung niat kita gimana.. baca surat yasin pasti mendapat ganjaran pahala dari Alloh, karena Alloh sangat menyukai orang-orang yang membaca al-quran.. sedangakan untuk orang yang sudah meninggal kita berdoa bersama-sama memohon ampunan atas dosa2nya kepada Alloh.. apa ada yang salah dengan itu.. sekali lagi itu semua tergantung niat masing-masing orang.. jangan sedikit-sedikit bid.ah, sedikit-sedikit syirik, sedikit-sefikit kafir… salam

  12. alihamsyah said,

    Januari 19, 2009 pada 8:28 pm

    Saudara2 masih banyak yang menganut agama nenek moyang alias taklid buta sudah jelas hadits tentang surat yasin doif semua.Kita beribadah kan harus Niat, ikhlas karena Allah, dan i’tibaur Rasul, jadi kalau sudah niat dan ikhlas tapi kalau tidak sesuai tuntunan ibadah kita percuma. jadi ibadah itu sedikit tetapi sesuai tuntunan itu lebih baik dari pada banyak tapi tidak sesuai tuntunan. Mohon maaf kalau saya salah.

  13. toghe said,

    Februari 13, 2009 pada 11:27 am

    Saudara2ku sesama muslim, marilah kita sikapi perbedaan dengan dewasa dan janganlah berdebat2 kusir yg ga ada gunanya. Penulis hanya ingin mengungkapkan klo sbenarnya yasinan itu tidak ada aqidahnya dalam sunnah Rasul. Cuma disini jangan lantas kita langsung menghukumnya dengan perbuatan bid’ah dan sebagainya. Ingatlah kawan, sepanjang kita melakukannya dengan niatan Lillahi Ta’ala, saya rasa itu boleh2 saja. Lagipula saya pernah mendengar, bacaan Yasin dikala ada org meninggal bisa diperuntukkan agar keluarga si mayit merasa terhibur dengan dibacakannya ayat2 ALLAH SWT dan tidak sedih berkepanjangan. Bukankah itu ada faedahnya. Selain itu kita jg wajib mengirim doa kepada si mayit agar diampuni dosa2nya dan diterima amalan2nya.
    Maka marilah kawan, kita sikapi perbedaan dengan lapang dada, jika kita bingung dengan suatu masalah sementara dalil2 yg ada terlihat kabur, maka kita kembalikan saja pada ALLAH SWT, biarkan ia yg menilai perbuatan kita sepanjang kita melakukannya dengan niat Lillahi Ta’ala…

    Wallahu’alam…

  14. September 14, 2009 pada 7:54 am

    dari komentator disini, kusimpulkan:
    Ada yang berpegang pada Al-Quran
    ada yang berpegang pada hadist /sunnah…
    ada yang berpegang pada tafsir
    ada pula yang berpegang pada apa yang dilakukan turun temurun
    paling parah, berpegang pada pendengarannya…

  15. whatever4all said,

    Januari 5, 2010 pada 8:50 am

    Sayang sekali kita masih bergumul dengan hal seperti ini….
    Sungguh, apabila kita melihat daridua sisi, baik yang setuju maupun yang tidak setuju, akan kita lihat bahwa tidak perlu perdebatan panjang yang menghabiskan banyak waktu dan fikiran kita…

    Saya dapat memahami kalo Teman-teman yang tidak mengetahui bagaimana adat itu muncul dan berkembang di masyarakat atau belum/ tidak pernah ikut yasinan tahlilan, tidak tahu bagaimana suasana dan efek tahlilan atau yasinan bagi masyarakat, mungkin cenderung mengatakan kegiatan ini bid’ah, taklid, mubadzir dll yang seolah-olah kegiatan ini muncul karena kebodohan dan kejahilan pelakunya.

    Tentu.., praktek yasinan, tahlilan dll akan berbeda tiap daerahnya. Mungkin ada yang benar-benar melaksanakan sebagai kebiasaan tilawah dan doa yang baik, ada yang menjadikannya sebagai kegiatan kemasyarakatan (mungkin ditambahi kegiatan arisan segala), mungkin ada juga mereka yang melaksanakannya tanpa iringan/bimbingan ulama sehingga ada penyimpangan dalam pelaksanaannya…

    Saya sendiri sempat beberapa tahun membimbing ibu2 di desa membaca yasinan tiap malam jum’at. Banyak manfaat yang bisa kita lihat:
    1. Saya menjadikan kegiatan ini untuk “prototype” bacaan Al Qur’an, artinya.., karena surah yasin ini memang populer di kalangan ibu2, maka saya manfaatkan untuk men-tahsin-kan bacaan mereka, sehingga ketika mereka menemukan bacaan tajwid dengan hukum tertentu, mereka bisa membandingkannya dengan apa yang merkea baca di surah yasin. Saya melihat ada perkembangan yang lebih baik pada bacaan Al-Quran mereka.
    Kenapa tidak pakai Iqra’ saja?? :-) , anda yang berkecimpung dengan pembelajaran tilawah di desa khususnya untuk orang tua mungkin sudah tau jawabannya dansaya melihat lebih baik dengan yasinan saja…
    2. Kegiatan ini saya pandang lebih baik, karena bila tidak ada kegiatan ini, mereka akan lebih memilih di rumah, nonton TV dll, karena untuk membaca AL Qur’an di rumah, tanpa teman, tanpa pembimbing, tentu bukan hal yang mudah bagi mereka… (karena tidak semua anggota keluarga mereka bisa dan mau belajar AL Qur’an)
    3. Yasinan ini, ternyata mempererat persaudaraan, pemahaman kemasyarakatan, sensitivitas perasaan pada kesulitan yang dialami tetangga juga lebih baik. Sehingga ketika sebagian sedang ditimpa kesusahan, yang lain segara mengetahui dan membantu.
    4. Kalo kemudian yasinan dijadikan sarana mendo’akan leluhur (cape’ kalo mbahas sampai tidaknya pahala ke orang yang dikirim, wong perdebatan itu dah “diselesaikan” oleh ulama-ulama terdahulu dengan “sepakat tidak sependapat”..). logikanya: saya mengundang tetangga2 untuk membaca yasin di rumah saya. (saya yakin orang tua saya mendapatkan pahala karena telah mengajari saya pendidikan agama, dan setiap kegiatan keagamaan saya insya Allah akan mengalirkan pahala bagi beliau, apalagi dengan mengajak banyak orang membaca Al Qur’an).
    4. Diatas semua itu, Yasinan BUKANLAH ibadah wajib, sehingga ketika kita tidak melaksanakannya, maka tidak wajib mengqodlo’ di waktu yang lain dan tentu saja tidak berdosa.

    SEMOGA BERMANFAAT…!!!!

  16. ilham428 said,

    Desember 5, 2010 pada 10:37 pm

    Wah bagus tuh,, bisa gak mampir ke blog saya biar sekalian ngobrol-ngobrol bareng http://ilham428.blogspot.com/

  17. Oktober 16, 2011 pada 9:00 pm

    patut di taklid tuuu agar budaya yasinan kita yg kadang tidak sedikit mengeluarkan dana bisa berubah ..

  18. As Dewinsa said,

    Oktober 24, 2011 pada 11:00 am

    islam adalah agama membawa rahmat bagi semua ummat…jadi jgn kita gara2 baca yasin kita semua salah paham dan saling menyalahkan,yg patut disalahkan orng yg tidak membaca apa2,hanya nonton tv,zina kumpul2 hanya membicrkn dunia saja,ingat sobat hidup didunia ini sementara……mari kita bersatu….salah satu kelemahan ummat islam adlh gampang diadu domba,maaf klw sy agak lancang.

  19. wsmoslem said,

    November 7, 2011 pada 11:32 am

    Assalammu’alaikum WW

    Saudaraku, hanya mengingatkan kepada kita semua termasuk saya sendiri.

    Jangan kita perdebatkan masalah kilafiyah karena akan menguras energi kita.

    Bahasan dalam blog ini sangat menarik, kalau boleh saya tarik inti pembicaraan dari blog ini :
    1. Mengenai Yasinan (kegiatan keagamaan yang hanya membaca surat Yasin dalam setiap pertemuan atau kegiatannya).
    2. Berdoa untuk orang yang telah meninggal.

    Menurut pemahaman agama yang saya dapati dari para ulama dan buku agama yang saya baca dan pelajari :
    1. Kegiatan Yasinan yang hanya membaca surat Yasin yang merupakan salah satu surat dalam Alqur’an tidak menyalahi tuntunan agama kita yakni Alqur’an itu sendiri dan Hadist Rasulullah SAW.

    Tetapi alangkah baiknya kegiatan Yasinan yang berupa kegiatan rutinitas dalam artian kegiatan yang dilakukan oleh sekelompok orang atau organisasi, lebih dikembangkan menjadi sebuah kegiatan yang mempelajari dan membaca semua surat yang ada dalam Alqur’an. Ayat demi ayat kita baca dan pelajari kemudian diambil hikmah yang terkandung dan kemudian kita coba aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

    Saudaraku, jika kegiatan kita hanya membaca surat Yasin alangkah sedikitnya hikmah dan ilmu yang kita dapat, padahal Alqur’an adalah sumber ilmu bagi orang yang bertaqwa….

    2. Doa untuk orang meninggal,
    Saudaraku dalam agama Islam, doa untuk orang yang telah meninggal itu ada tuntunannya, seperti pada bacaan diantara takbir dalam sholat jenazah, ada bacaan yang merupakan doa bagi si mayat, kemudian sehabis sholat kita dianjurkan mendoakan orang tua kita yang masih hidup maupun yang telah meninggal.

    Kita berdoa untuk orang yang telah meninggal tidak menyalahi Alqur’an dan Hadist. Diterima atau tidaknya doa kita untuk orang yang kita doakan bukan bagian kita itu adalah haknnya Allah SWT.

    Kegiatan keagamaan yang tidak ada tuntunannya dalam Alqur’an dan Hadist tetapi merupakan tradisi atau budaya, itu tidaklah salah sepanjang kegiatan itu tidak bertentangan dengan Alqur’an dan Hadist dan sepanjang kegiatan itu tidak termasuk perbuatan syirik.

    Tetapi sebagai orang yang beriman sedikit demi sedikit kita coba tidak melakukan kegiatan keagamaan yang tidak ada tuntunannya dalam Alqur’an dan Hadist yang hanya berupa tradisi atau budaya, karena kegiatan itu akan bersifat hanya sebagai rutinitas belaka tanpa ada nilai pahalanya disisi Allah karena kegiatan itu tidak mempunyai tuntunan yang jelas yakni Alqur’an dan Hadist.

    Wassalam …..

  20. Desember 2, 2011 pada 10:37 pm

    yang penting jangan saling mengkafirkan!!!! cobalah membangunkan orang yang tidur, bukan orang yang bangun ditidurkan..
    ajak mereka yang belum masuk islam , bukan mengkafirkan yang sudah islam!!!!
    kapan uamt islam mau maju????

  21. Februari 28, 2012 pada 7:06 pm

    klo mendoa kepada orang mati tidak sampai, kenapa waktu kita shalat jenazah membaca doa yg intinya berdoa kepada orang mati?

  22. Juli 10, 2012 pada 1:26 am

    Saudara-saudaraku yg seiman…
    Memang benar Allah subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya menganjurkan untuk membaca Al Qur’an, berdzikir dan berdoa. Namun apakah pelaksanaan membaca Al Qur’an, dzikir-dzikir, dan do’a-do’a diatur sesuai kehendak pribadi dengan menentukan cara, waktu dan jumlah tertentu (yang diistilahkan dengan acara tahlilan, yasinan dll) tanpa merujuk praktek dari Rasulullah shalAllahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya bisa dibenarkan.

    Marilah kita pahami lebih dalam dari firman Allah subhanahu wata’ala yang artinya :

    “Pada hari ini telah Aku sempurnakan agama Islam bagi kalian, dan telah Aku sempurnakan nikmat-Ku atas kalian serta Aku ridha Islam menjadi agama kalian.” (Al Maidah: 3)

    Juga Rasulullah shalAllahu ‘alaihi wasallam bersabda:

    “Tidak ada suatu perkara yang dapat mendekatkan kepada Al Jannah (surga) dan menjauhkan dari An Naar (neraka) kecuali telah dijelaskan kepada kalian semuanya.” (H.R Ath Thabrani)

    Ayat dan hadits di atas menjelaskan suatu landasan yang agung yaitu bahwa Islam telah sempurna, tidak butuh ditambah dan dikurangi lagi. Tidak ada suatu ibadah, baik perkataan maupun perbuatan melainkan semuanya telah dijelaskan oleh Rasulullah shalAllahu ‘alaihi wasallam.

    Semoga Allah SWT memberikan petunjuk dan jalan yg benar kepada kita..


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: