mediamuslim.wordpress.com - “Ayo pak kita yasinan di rumahnya pak RT!” Kegiatan yang sudah menjadi tradisi di masyarakat kita ini biasanya diisi dengan membaca surat Yasin secara bersama-sama. Mereka bermaksud mengirim pahala bacaan tersebut kepada si mayit untuk meringankan penderitaannya. Timbang-timbang, daripada berkumpul untuk bermain catur, kartu apalagi berjudi, kan lebih baik digunakan untuk membaca Al-Qur’an (khususnya surat Yasin). Memang sepintas jika dipertimbangkan menurut akal pernyataan itu benar namun kalau dicermati lagi ternyata ini merupakan kekeliruan.Al-Qur’an Untuk Orang Hidup
Al-Qur’an diturunkan Alloh Ta’ala kepada Nabi Muhammad shollallohu’alaihi wa sallam sebagai petunjuk, rahmat, cahaya, kabar gembira dan peringatan. Maka kewajiban orang-orang yang beriman untuk membacanya, merenungkannya, memahaminya, mengimaninya, mengamalkan dan berhukum dengannya. Hikmah ini tidak akan diperoleh seseorang yang sudah mati. Bahkan mendengar saja mereka tidak mampu. “Sesungguhnya kamu tidak dapat menjadikan orang-orang mati itu mendengar.” (Terjemah An-Nahl: 80).
Alloh Ta’ala juga berfirman di dalam surat Yasin tentang hikmah tersebut yang artinya, “Al Qur’an itu tidak lain hanyalah pelajaran dan kitab yang memberi penerangan supaya dia memberi peringatan kepada orang-orang yang hidup.” (Yasin: 69-70). Alloh berfirman yang artinya, “Sesungguhnya seseorang itu tidak akan menanggung dosa seseorang yang lain dan bahwasanya manusia tidak akan memperolehi ganjaran melainkan apa yang telah ia kerjakan.” (An-Najm: 38-39). Berkata Al-Hafizh Imam Ibnu Katsir rohimahulloh: ”Melalui ayat yang mulia ini, Imam Syafi’i rohimahulloh dan para pengikutnya menetapkan bahwa pahala bacaan (Al-Qur’an) dan hadiah pahala tidak sampai kepada orang yang mati, karena bacaan tersebut bukan dari amal mereka dan bukan usaha mereka. Oleh karena itu Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam tidak pernah memerintahkan umatnya, mendesak mereka untuk melakukan perkara tersebut dan tidak pula menunjuk hal tersebut (menghadiahkan bacaan kepada orang yang mati) walaupun hanya dengan sebuah dalil pun.”
Adapun dalil-dalil yang menunjukkan keutamaan surat Yasin jika dibaca secara khusus tidak dapat dijadikan hujjah. Membaca surat Yasin pada malam tertentu, saat menjelang atau sesudah kematian seseorang tidak pernah dituntunkan oleh syari’at Islam. Bahkan seluruh hadits yang menyebutkan tentang keutamaan membaca Yasin tidak ada yang sahih sebagaimana ditegaskan oleh Al Imam Ad Daruquthni.
Islam telah menunjukkan hal yang dapat dilakukan oleh mereka yang telah ditinggal mati oleh teman, kerabat atau keluarganya yaitu dengan mendo’akannya agar segala dosa mereka diampuni dan ditempatkan di surga Alloh subhanahu wa ta’ala. Sedangkan jika yang meninggal adalah orang tua, maka termasuk amal yang tidak terputus dari orang tua adalah do’a anak yang sholih karena anak termasuk hasil usaha seseorang semasa di dunia.
Biar Sederhana Yang Penting Ada Tuntunannya
Jadi, tidak perlu repot-repot mengadakan kenduri, yasinan dan perbuatan lainnya yang tidak ada tuntunannya dari Rosululloh shollallohu’alaihi wa sallam. Bahkan apabila dikaitkan dengan waktu malam Jum’at, maka ada larangan khusus dari Rosululloh shollalohu’alaihi wa sallam yakni seperti yang termaktub dalam sabdanya, “Dari Abu Hurairah, dari Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam: Janganlah kamu khususkan malam Jum’at untuk melakukan ibadah yang tidak dilakukan pada malam-malam yang lain.” (HR. Muslim). Bukankah lebih baik beribadah sedikit namun ada dalilnya dan istiqomah mengerjakannya dibanding banyak beribadah tapi sia-sia? Rosululloh shollallohu’alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang beramal yang tidak ada tuntunannya dari kami, maka ia tertolak.” (HR. Muslim). Semoga Alloh subhanahu wa ta’ala melindungi kita semua dari hal-hal yang menjerumuskan kita ke dalam kebinasaan. Wallohu a’lam bishshowab.
Sumber: mediamuslim.wordpress.com






PENERBANGAN GRATIS AL-JENAZAH AIRLINES LAYANAN PENUH 24 JAM berkata,
Januari 8, 2007 pada 5:06 pm
Ditengah banyaknya tragedi Transportasi, ini ada tawaran yang menarik yaitu: Penerbangan Gratis Dengan Layanan OK.
gwbanget berkata,
Januari 12, 2007 pada 12:54 pm
Jadi, tidak perlu repot-repot mengadakan kenduri, yasinan dan perbuatan lainnya yang tidak ada tuntunannya dari “Rosululloh shollallohu’alaihi wa sallam”>> wah…wah… ini orang ngajak kita murtad ya? membaca yasinan kan membaca Al-Quran, eh nt kayaknya salah tuh nafsirkan hadist…
Abdullah berkata,
Januari 28, 2007 pada 6:00 pm
cuma mau meluruskan kesalahpahaman oleh gwbanget…..
cited: “membaca yasinan kan membaca Al-Quran”; yang anda maksud barangkali disini adalah membaca SURAT YASIN, yang memang merupakan salah satu surat (ke-36) dari Al-Qur’an. Jadi membaca surat Yasin seperti juga membaca surat2 lain dari Al-Qur’an adalah tuntunan dari Rasulullah SAW san akan mendapat pahala sebanyak huruf ang dibaca.
Sedangkan membaca surat YASIN untuk di saat2 dan tempat2 tertentu diistilahkan YASINAN. Inilah yang oleh penulis dikatakan tak ada dalilnya. Surat Al-Fatihah saja, yag merupakan ibu dari Surat2 Al-Qur’an, tidak punya keistimewaan dalam hal pembacaannya, selain bahwa dia dibaca pada 2 rakaat pertama shalat2 wajib; inipun karena Rasulullah SAW mencontohkan demikian. Cuma, seperti pada kasus Surat Yasin; Surat Al-Fatihah pun dibuat oleh beberapa orang menjadi “sakti”, yaitu dibaca sebagai “kiriman” pahala kepada orang2 yang sudah meninggal, yang jelas2 tak ada tuntunan dari Rasulullah SAW dan menyalahi prinsip: siapa berbuat dia akan mendapat pahala atau ganjarannya. Wallahu A’lam bishshawab.
Demikian “penglurusan” ini, semoga kita selalu mendapat hidayah dari Allah SWT, amien…..
alphi berkata,
Januari 28, 2007 pada 6:50 pm
@gwbanget
Sory, ane mau sedikit menghimbau, sebaiknya kita berhati-hati sebelum berkomentar ataupun memahami bacaan, ane yakin ente bukan lulusan TK nol kecil yang harus di jelaskan kata per kata. (sory kalo ga’ sopan)
nah lo….. sebaiknya kita jangan pura-pura ga’ ngerti lalu menuliskan hal-hal yang berbau syubhat hanya demi penghalalan “cara-cara Ibadah” yang tidak benar.
@abdullah
sebuah pelurusan yang bermanfaat
@aqidahislam
terus berjuang pantang mundur
mocco berkata,
Februari 1, 2007 pada 1:50 pm
saya setuju dengan Saudara Abdullah, bila kita seorang muslim yang kaffah maka kita harus taqwa dan beriman kepada ALLAH dan mengikuti apa yang diajarkan Nabi Muhammad S.A.W kepada umat manusia…itu bila kita ingin menjadi seorang muslim yang kaffah…coba pikirkan dan telaah,apakah ALLAH memerintahkan kita dan Nabi Muhammad menuntunkan kepada kita membaca surat yasin untuk orang yang telah meninggal dunia….ingat,pedoman umat islam ALQUR’AN dan HADITS…
lova berkata,
Februari 6, 2007 pada 11:35 am
Saya memang tertarik sekali dengan pemasalahan mengirm doa kepada teman, saudara yang sudah meninggal. Sebetulnya Saudara penulis juga harus melihat sejarah dan kenyataan. Dalam kita berdoa, kenapa kita harus membaca salawat, demikian juga waktu salat. Padahal Nabi Muhammad tidak memerlukan doa dari kita. Jadi dalam penafsiran Saudara itu tidak benar. Memang dalam hadis sudah disebutkan bahwa hanya tiga hal yang masih ada sangkut pautnya dengan mayat, salah satunya adalah amal jariyah dan doa anak sholeh. Jadi kalo ada yang baca tahlil, yasinan. Itu adalah proses seseorang senantiasa mengingat dan membaca al quran. Sedangkan setelah selesai, baru kita berdoa untuk mayat. Karena Allah telah bersabda, Berdoalah kepadaKu. Nah berdoa itu kan bisa apa saja, namanya juga minta kepada Allah. Jadi semua permintaan tergantung kebutuhan masing-masing. Jangan setiap perbuatan tidak seperti nabi dianggap salah. Kalo zaman Nabi Muhammad (di Mekkah ) tidak makan nasi atau ketela, apakah kiota tidak boleh makan ketela. Zaman Nabi tidak ada Komputer dan Telepon, apakah kita tidak boleh menggunakan peralatan tersbut? Jadi suatu hadis itu juga harus dilihat dari Zaman dan sejarahnya. Mohjon maaf apabila adalah salah, karena manusia tempatnya salah.
Septi berkata,
Februari 8, 2007 pada 11:28 am
Lepas dari benar atau tidaknya mengirim doa untuk orang yang sudah meninggal, saya rasa tidak ada salahnya klo kita berdoa. Mau sambil baca surat Yaasin atau tidak tergantung kepercayaan masing-masing aja. Cuma sebaiknya kita jangan menyampaikan sesuatu yang kita sendiri belum tau kebenarannya. Itu sangat berbahaya, banyak yang membaca & klo itu salah maka kita akan membuat banyak orang menjadi salah, dan itu artinya kita jadi berdosa & mengajak orang lain ikut berdosa.
MM berkata,
September 5, 2007 pada 3:17 pm
kunjungi juga mediamuslim.org
koesbagi2informasi berkata,
Februari 14, 2008 pada 11:34 am
Saudaraku ilmu jangan hanya dari satu sumber saja setelah dari Rosululloh Muhammad SAW meninggal. Banyak hadist-hadist yang palsu memang, lemah memang hasan banyak. Tapi juga banyak hadist yang hasan/sahih dibuat seperti palsu seperti faedah membaca surat yasin.
Tapi kenapa hadist-hadist yang sering menjadi dasar Saudara untuk mengatakan tidak ada dasar keutamaan surat yasin dalil-dalil dibawah ini tidak ada :
1. Sayyiduna Ma’aqal ibn Yassaar (radiyAllau ‘anhu) meriwayatkan bahwa Rasulullah (sallAllahu ‘alayhi wasallam) bersabda,
“Yasin adalah kalbu dari Al Quran. Tak seorangpun yang membacanya dengan niat menginginkan Akhirat melainkan Allah akan mengampuninya. Bacalah atas orang-orang yang wafat di antaramu.” (Sunan Abu Dawud).
Imaam Haakim mengklasifikasikan hadits ini sebagai Sahiih , di Mustadrak al-Haakim juz 1, halaman 565; lihat juga at-Targhiib juz 2 halaman 376. Imaam Ahmad meriwayatkan dalam Musnad-nya dengan sanad beliau dari Safwaan bahwa ia berkata, “Para ulama biasa berkata bahwa jika Yasin dibaca oleh orang yang tengah maut, Allah akan memudahkan maut itu baginya.” (Lihat Tafsiir Ibn Katsir juz 3 halaman 571)
2. Sayyiduna Jund ibn Abdullah (radiyAllahu ‘anhu) meriwayatkan bahwa Rasulullah (sallAllahu ‘alayhi wasallam) bersabda,
“Barangsiapa membaca Surah Yaseen pada malam hari dengan niat mencari ridha Allah, dosa-dosanya akan diampuni.” (Muwattha’ Imaam Maalik).
Imaam ibn Hibbaan mengklasifikasikan hadits ini sebagai Sahiih, lihat Sahiih ibn Hibbaan Juz 6 halaman 312, ( lihat juga at-Targhiib juz 2 halaman 377). Riwayat serupa oleh Sayyiduna Abu Hurayrah (radhiyAllahu ‘anhu) juga telah dicatat oleh Imaam Abu Ya’ala dalam Musnad beliau dan Hafiz ibn Katsir telah mengklasifikasikan rantai periwayatnya (Sanad) sebagai “Baik” (Hasan) (lihat Tafsiir Ibn Katsiir Juz 3 halaman 570).
Coba para kaum muslimin lebih bijaksana dan jangan saling menyalahkan tapi mari saling meluruskan. Jangan gampang mengatakan ini bid’ah ini syirik ini kafir. Salam
alkaillah berkata,
Oktober 30, 2008 pada 3:29 pm
saya setuju dengan lova.memang di indonesia dikit2 ngomongin bid ah..kalo nggak ada para wali yang datang tanah jawa khususnya mungkin nggak ada islam di jawa..n para wali emang nggak membawa dalil.itu hanya marketing yang para wali di jawa untuk membuat manusia sebelum muslim menjai manusia muslim..nah kalo jaman sekarang dibuat masalah tinggal kita memahaminya gimana..niatnya gimana..kalo niatnya memang di tujukan ke mayit ya jelas nggak ada manfatnya soalnya kalo udah jadi mayit itu urusan Allah bukan manusia .kita hanya mendoakan aja tapi janganlah berdoa yang salah nanti jadi sia2seperti kita ngomong ama batu ya gitu deh
tiar86 berkata,
Januari 17, 2009 pada 10:56 pm
apakah salah jika kita berkunjung ke tempat orang yang sudah meninggal untuk berbelasungkawa terhadap keluarganya.. yasinan jangan diartikan macam2, menurut saya islam itu agama yang sangat fleksibel, tergantung niat kita gimana.. baca surat yasin pasti mendapat ganjaran pahala dari Alloh, karena Alloh sangat menyukai orang-orang yang membaca al-quran.. sedangakan untuk orang yang sudah meninggal kita berdoa bersama-sama memohon ampunan atas dosa2nya kepada Alloh.. apa ada yang salah dengan itu.. sekali lagi itu semua tergantung niat masing-masing orang.. jangan sedikit-sedikit bid.ah, sedikit-sedikit syirik, sedikit-sefikit kafir… salam
alihamsyah berkata,
Januari 19, 2009 pada 8:28 pm
Saudara2 masih banyak yang menganut agama nenek moyang alias taklid buta sudah jelas hadits tentang surat yasin doif semua.Kita beribadah kan harus Niat, ikhlas karena Allah, dan i’tibaur Rasul, jadi kalau sudah niat dan ikhlas tapi kalau tidak sesuai tuntunan ibadah kita percuma. jadi ibadah itu sedikit tetapi sesuai tuntunan itu lebih baik dari pada banyak tapi tidak sesuai tuntunan. Mohon maaf kalau saya salah.
toghe berkata,
Februari 13, 2009 pada 11:27 am
Saudara2ku sesama muslim, marilah kita sikapi perbedaan dengan dewasa dan janganlah berdebat2 kusir yg ga ada gunanya. Penulis hanya ingin mengungkapkan klo sbenarnya yasinan itu tidak ada aqidahnya dalam sunnah Rasul. Cuma disini jangan lantas kita langsung menghukumnya dengan perbuatan bid’ah dan sebagainya. Ingatlah kawan, sepanjang kita melakukannya dengan niatan Lillahi Ta’ala, saya rasa itu boleh2 saja. Lagipula saya pernah mendengar, bacaan Yasin dikala ada org meninggal bisa diperuntukkan agar keluarga si mayit merasa terhibur dengan dibacakannya ayat2 ALLAH SWT dan tidak sedih berkepanjangan. Bukankah itu ada faedahnya. Selain itu kita jg wajib mengirim doa kepada si mayit agar diampuni dosa2nya dan diterima amalan2nya.
Maka marilah kawan, kita sikapi perbedaan dengan lapang dada, jika kita bingung dengan suatu masalah sementara dalil2 yg ada terlihat kabur, maka kita kembalikan saja pada ALLAH SWT, biarkan ia yg menilai perbuatan kita sepanjang kita melakukannya dengan niat Lillahi Ta’ala…
Wallahu’alam…
peranita sagala berkata,
September 14, 2009 pada 7:54 am
dari komentator disini, kusimpulkan:
Ada yang berpegang pada Al-Quran
ada yang berpegang pada hadist /sunnah…
ada yang berpegang pada tafsir
ada pula yang berpegang pada apa yang dilakukan turun temurun
paling parah, berpegang pada pendengarannya…